Pria : Hai, apa kabar?
Wanita : Aku baik. Bagaimana denganmu?
Pria : Aku pun baik. Tapi mengapa kau terlihat murung, tak sesuai dengan cerahnya hari ini?
Wanita : Ehm, tidak. Tidak ada apa-apa, percayalah. .
Pria : Sepertinya kau menyimpan sesuatu. Katakan saja, akau siap menjadi pendengar yang baik untukmu
Wanita : (diam sejenak) terimakasih dan maaf. .
Pria : untuk apa terima kasihmu itu?
Wanita : Terima kasih kau telah hadir dalam hidupku, sehingga aku bisa merasakan indahnya cinta sesama
Pria : Lalu untuk apa kata maaf itu?
Wanita : Maaf karena aku tak bisa jadi wanita yang baik untukmu
Pria : Jangan pernah kau berfikir seperti itu, aku menerima kau apa adanya
Wanita : Tapi apakah kau berkenan untuk mengabulkan satu sajaa permohonanku?
Pria : Tentu saja, mengapa tidak. Apa itu?
Wanita : Maukah kau meninggalkan aku
Pria : (tercengang) Apa yang kau katakan? Sungguh aku tak mengerti
Wanita : (matanya mulai berlinang) Tinggalkanlah aku, tinggalkanlah aku, tinggalkanlah aku. Karena aku butuh waktu, untuk belajar menjadi wanitamu. Aku persilahkan kau untuk menunggu. Tapi jika kau tak mampu, temukanlah gadis yang lain. Aku akan ikhlas, demi kebahagiaanmu. .
Pria : (termenung dan diam) sungguh aku tak menyangka hal ini bisa terjadi. Baiklah (sambil menghela nafas) . . jika memang itu maumu, akan ku wujudkan permohonanmu. Tapi satu yang perlu kau INGAT. Aku akan tetap menunggumu, dan juga akan belajar menjadi “imam” yang baik untukmu
Wanita : (tersenyum) terimakasih, semoga kita dipertemukan kembali oleh-Nya
Pria : Ya, itu pun harapanku. Aku ingin dapat mencintaimu karena aku mencintai-Nya. .