Hari baru telah datang, dan malam telah mengalami peralihannya. Suasana pagi yang begitu ramah menyambut langkah Tata menuju kelas yang tepat berada di lantai 2 paling ujung. Karena letaknya jauh dari kantor guru, tak ayal jika kelas itu selau ramai. Senyum semangat baru melengkapi pagi itu. Suara perbincangan anak-anak pun kian terdengar.
“Hai Ta?”, sapa Linda yang sudah lebih dulu datang. “Hai!, eh tumben banget ni kelas udah rame? ”, jawab Tata sambil menaruh tasnya dan duduk dihadapan Linda. “Liat dong jam berapa sekarang? 7 kurang 5. jelas aja!!”, kata Linda. Tata melirik jam tangannya seraya berkata, “Hehe iya, gw yang nggak liat jam”. Kemudian mereka melanjutkan obrolannya tentang drama Korea terbaru yang tayang di stasiun televisi tuuuttt (sensor). Mereka berdua adalah sepasang sahabat sejak duduk dibangku SMP. Ya.. kalau dihitung sudah 5 tahun mereka berteman. Waaww!!
Tawa mereka pun terhenti. Ketika Linda yang diajak ngobrol malah bengong , terpaku melihat sosok “pria idamannya” tiba di kelas. Dengan mengenakan jaket merk ternama, dan tas ransel dipundaknya. Sungguh kerennya!. Dengan tampang polosnya Linda memandang pria itu. Tata yang memanggil-manggilnya sedari tadi pun diacuhkannya. “Lin, Lin, Lindaaaaa!!!!!!! ”, teriak Tata. Sontak Linda langsung terkejut dan melepaskan pandangannya. “Ngeliat si Putra aja sampe segitunya? Biasa aja kali. hahaha ”, kata Tata. Linda hanya senyum-senyum.
“Teng teng teng ..”
Bel pun berbunyi, tibalah saatnya sang seniman guru seni rupa berbakat itu datang.
***
Sebenarnya Linda dan Putra itu sudah saling suka sejak pertama masuk SMA. Mereka juga pernah jalan bareng. Namun putra belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya, sedangkan Linda tetap menunggu Putra melakukan hal itu. Sampai pada suatu ketika Linda, Tata dan Putra jalan bareng. Posisi Tata adalah sebagai pencomblang dari Linda dan Putra. Tapi tahukah mereka berdua? Ada hati yang terluka melihat Linda dan Putra bersama?
Tata memang sosok yang bisa di bilang pendiam dan tertutup. Apalagi soal Cinta. Ia tak pernah menceritakan rasa sukanya itu kepada siapapun, walaupun kepada sahabatnya sendiri. Ia lebih memilih untuk diam, daripada perasaannya melukai hati sahabatnya. Sedih, pilu, dan cemburu merasuki hati Tata. Ia tak pernah memperlihatkan hal itu. Dari luar ia terlihat tegar, tapi dari dalam ia begitu rapuh.
Sampai pada suatu ketika. . .
Tibalah hari ulang tahunnya, yang tepat tujuh belas tahun. Tata mengundang semua temannya untuk datang di birthday party. Termasuk Putra. Ia berharap di umurnya yang ke 17 ini, memiliki seseorang yang dapat menjadi motivator baginya. Tidak menutup kemungkinan, ia berharap Putralah yang menjai kekasihnya itu. Namun harapan itu sirna. Putra datang menghampirinya, bukan untuk mengucapakan selamat ulang tahun, bukan untuk memberikan setangkai bunga, bukan pula untuk meminta Tata menjadi kekasihnya. Putra datang, meminta sedikit waktu untuk menyanyikan sebuah lagu yang ditujukan kepada Linda. Lalu Putra mengungkapkan perasaannya kepada Linda. Senyuman Linda cukup untuk mewakili jawaban dari pertanyaan Putra.
Melihat kejadian itu Tata segera berlari menuju halaman belakang. Ia menumpahkan segala kekecewaan, kesedihan, dan tangisannya disana. Ia sadar bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan Putra tidak pernah tahu perasaan Tata yang sebenarnya. Mungkin memang cinta tak harus memiliki.
Dikala itu, seseorang telah mengikutinya. Ia menepuk bahunya seraya berkata “Kau akan terlihat cantik jika tersenyum”
To be continued ..
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar